Snedaker 1978. Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yg tumbuh di sepanjang garis pantai tropis/subtropis yg memp fungsi istimewa di lingk. yg mengandung garam dan kondisi tanah anaerob. n Aksornkoae, 1993. Mangrove adalah tumbuhan yg hidup disepanjang pantai, dipengaruhi oleh pasang surut dan tumbuh di daerah tropis/sub-tropis. Hutanbukanlah sekedar lokasi yang dipenuhi dengan flora dan fauna, tetapi lebih dari itu, dari perspektif ekonomipolitik dan kebijakan, hutan adalah sistem yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan harus dikelola dengan memperhatikan prinsip keadilan sosial di antara stakeholder pemanfaat hutan. Kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumber Bahanorganik merupakan salah satu komponen penyusun sedimen yang berasal dari sisa tumbuhan dan hewan yang mati. Oleh kerena itu, keadaan sedimen yang banyak mengandung lumpur, memiliki kandungan bahan organik yang tinggi sehingga merupakan habitat yang sesuai bagi Gastropoda (Bolam et al. 2002). HABITAT GASTROPODA DI EKOSISTEM HUTAN Indonesiajuga memiliki hutan mangrove seluas 3,7 hektar dan merupakan hutan mangrove terluas di dunia. Hutan-hutan tersebut telah memberikan andil yang cukup besar terhadap pembangunan dan perekonomian Indonesia selama tigapuluh decade terakhir. Hutan bukan hanya sekumpulan individu pohon tetapi merupakan suatu masyarakat tumbuhan Di2012, Pertamina melakukan penanaman mangrove lagi 10 ribu bibit dan saat itu dilakukan peresmian hutan mangrove Karangsong yang dilakukan Pertamina. Dikatakan Eka, tantangan yang dihadapinya adalah benturan dengan masyarakat. Antara masyarakat yang menjadikan tambak di lokasi hutan mangrove dengan masyarakat yang ingin menyelamatkan vfOCjPU. Pengertian Hutan Mangrove Hutan mangrove merupakan ekosistem hutan di daerah pantai yang terdiri dari kelompok pepohonan yang dapat hidup dalam lingkungan berkadar garam tinggi. Salah satu ciri tanaman mangrove mempunyai akar yang menyembul ke permukaan. Penampakan mangrove mirip seperto hamparan semak belukar yang memisahkan daratan dengan laut. Kata mangrove berasal dari bahasa portugis mangue yang artinya tumbuhan, dan dari bahasa inggris grove yang artinya Hutan mangrove merupakan suatu kelompok jenis tumbuhan berkayu yang tumbuh disepanjang garis pantai tropis dan subtropis yang terlindung dan mempunyai semacam bentuk lahan pantai dengan tipe tanah anaerob. Ciri ciri Hutan Mangrove Kurang abrasi tanahnya Salinitas tanahnya tinggi terjadinya daur penggenangan oleh pasang surut air laut Hanya sedikit sekali jenis tumbuhan yang dapat hidup Jenis tumbuhan yang bisa tumbuh bersifat khas karena telah melewati proses adaptasi dan juga evolusi Itulah beberapa ke khasan yang dimiliki oleh ekosistem hutan bakau tersebut. Ekosistem hutan bakau ini adalah ekosistem yang sangat unik. Ekosistem hutan mangrove ini harus dipelihara dan dilestarikan, Hal ini dikarenakan ekosistem hutan mangrove ini sangat berguna dan mengandung fungsi yang banyak. Bentuk Adaptasi Hutan Mangrove Mengembangkan Akar Tunjang Pengembangan akar tunjang ini dilakukan pada mangrove Rhizophora spp. Mangrove ini umumnya hidup di zona terluar dari lingkungan hutan mangrove. Pengembangan akar tunjang ini dilakukan untuk dapat bertahan hidup dari derasnya gelombang laut yang menerpa. Penumbuhan akar napas ini dilakukan pada mangrove jenis Avicennia spp dan Sonneratia spp. Akar napas ini muncul dari pekatnya lumpur dan tujuannya untuk mengambil oksigen dari udara . Penggunaan Akar Lutut Untuk pohon keneka atau Bruguiera spp, bentuk adaptasi yang dilakukan ialah akar lutut atau knee root. Akar Papan Adaptasi dengan menggunakaan akar papan dilakukan pada tumbuhan nirih atau Xylocarpus spp. Akar papan yang dimiliki oleh tumbuhan ini bentuknya panjang dan berkelok- kelok. Keduanya tersebut berguna untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur dan untuk mendapatkan udara untuk bernapas. Lubang Pori Atau Lentisel Kebanyakan dari flora yang tumbuh di hutan mangrove ini mempunyai lentisel atau lubang pori. Lubang ini berguna untuk bernafas. Contohnya ialah di tanaman pepagan. Mengeluarkan Kelebihan Garam Mengeluarkan kelebihan garam merupakan bentuk adaptasi fisiologis. Adaptasi ini dapat dilakukan oleh Avicennia spp, berguna untuk mengatasi salinitas yang tinggi. Avicennia spp mengeluarkan kelebihan garam lewat kelenjar di bawah daunnya. Pengembangan Sistem Perakaran Yang Hampir Tidak Tertembus Oleh Air Garam Adaptasi ini dilakukan pada Rhizophora spp, dimana ketika air yang telah terserap telah hampir tawar. Kandungan garam sekitar 90% hingga 97% tidak dapat melewati saringan akar- akar ini. sementara untuk garam yang sudah terserap di tubung pohon akan diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang sendiri pada saat daun tersebut gugur. Fungsi Hutan Mangrove Fungsi Ekonomi Dilihat dari segi ekonomisnya, hutan mangrove ini berguna sebagai Menghasilkan beberapa jenis kayu yang kualitasnya diakui baik Menghasilkan hasil- hasil non kayu. Hasil non kayu yang dihasilkan hutan ini dikenal dengan Hasil Hutan Bukan Kayu HHBK. Hasil hutan bukan kayu ini umumnya mirip arang kayu, tanin, bahan pewarna, kosmetik, hewan, serta bahan makanan dan juga minuman. Fungsi Ekologis Dilihat dari segi ekologisnya, hutan mangrove ini berguna sebagai Hutan mangrove berguna sebagai pelindung pantai dari abrasi ombak- ombak laut yang bisa mengikis pinggir- pinggir pantai Menjadi habitat berbagai macam jenis hewan. Hewan- hewan yang hidup di sekitar pantai adalah biawak air, kepiting bakau, udang lumpur, siput bakau, dan berbagai jenis ikan belodok Menjadi tempat hidup atau habitat bagi banyak tumbuhan atau flora Manfaat Hutan Mangrove Onrizal, 2006 Fungsi ekosistem mangrove mencakup fungsi fisik menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari erosi laut/abrasi, intrusi air laut, mempercepat perluasan lahan, dan mengolah bahan limbah, fungsi biologis tempat pembenihan ikan, udang, tempat pemijahan beberapa biota air, tempat bersarangnya burung, habitat alami bagi berbagai jenis biota dan fungsi ekonomi sumber bahan bakar, pertambakan, tempat pembuatan garam, bahan bangunan, makanan, obat-obatan & minuman, asam cuka, perikanan, pertanian, pakan ternak, pupuk, produksi kertas & tannin dll. Kusmana dalam Onrizal, 2006 menyatakan bahwa hutan mangrove berfungsi sebagai 1 penghalang terhadap erosi pantai dan gempuran ombak yang kuat; 2 pengolah limbah organik; 3 tempat mencari makan, memijah dan bertelur berbagai biota laut; 4 habitat berbagai jenis margasatwa; 5 penghasil kayu dan non kayu; 6 potensi ekoturisme. Ishyanto dalam Onrizal, 2006 Hutan mangrove secara mencolok mengurangi dampak negatif tsunami di pesisir pantai berbagai Negara di Asia. Hal ini terjadi karena adanya Rhizophora. Rhizophora memantulkan, meneruskan dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang tsunami ketika menjalar melalui rumpun Rhizophora bakau. Hutan mangrove mengurangi dampak tsunami melalui dua cara, yaitu kecepatan air berkurang karena pergesekan dengan hutan mangrove yang lebat, dan volume air dari gelombang tsunami yang sampai ke daratan menjadi sedikit karena air tersebar ke banyak saluran kanal yang terdapat di ekosistem mangrove. Permasalahan Hutan Mangrove Permasalahan riil yang ada sekarang terhadap hutan mangrove baik di dunia maupun di Indonesia secara khusus adalah terjadinya kerusakan akibat pemanfaatan yang melebihi kebutuhan dan meninggalkan asas keberlanjutan. Faktor penyebab terjadinya kerusakan pada hutan mangrove diantaranya; Pemanfaatan yang tidak terkontrol, karena ketergantungan masyarakat yang menempati wilayah pesisir sangat tinggi. Konversi hutan mangrove untuk berbagai kepentingan perkebunan, tambak, pemukiman, kawasan industri, wisata dll. tanpa mempertimbangkan kelestarian dan fungsinya terhadap lingkungan sekitar. Akibat Rusaknya Hutan Mangrove Instrusi air laut Instrusi air laut adalah masuknya atau merembesnya air laut ke arah daratan sampai mengakibatkan air tawar sumur/ sungai menurun mutunya, bahkan menjadi payau atau asin Harianto, 1999. Dampak instrusi air laut ini sangat penting, karena air tawar yang tercemar intrusi air laut akan menyebabkan keracunan bila diminum dan dapat merusak akar tanaman. Turunnya kemampuan ekosistem mendegradasi pengikisan sampah organic, minyak bumi dll. Menurunnya keanekaragamanhayati di wilayah pesisir Meningkatnya abrasi pantai Turunnya sumber makanan, tempat pemijah & bertelur biota laut. Akibatnya produksi tangkapan ikan menurun. Turunnya kemampuan ekosistem flora pesisir pantai dalam menahan tiupan angin, gelombang air laut dlll. Meningkatnya pencemaran pantai. Pemecahan Masalah Terhadap Rusaknya Mangrove Untuk konservasi hutan mangrove dan sempadan pantai, Pemerintah Republik Indonesia telah menerbitkan Keppres No. 32 tahun 1990. Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai, sedangkan kawasan hutan mangrove adalah kawasan pesisir laut yang merupakan habitat hutan mangrove yang berfungsi memberikan perlindungan kepada kehidupan pantai dan lautan. Sempadan pantai berupa jalur hijau selebar 100 m dari pasang tertinggi ke arah daratan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki dan melestarikan hutan mangrove antara lain Penanaman kembali hutan mangrove reboisasi Penanaman mangrove sebaiknya melibatkan masyarakat. Modelnya dapat masyarakat terlibat dalam pembibitan, penanaman dan pemeliharaan serta pemanfaatan hutan mangrove berbasis konservasi. Model ini memberikan keuntungan kepada masyarakat antara lain terbukanya peluang kerja sehingga terjadi peningkatan pendapatan masyarakat. Pengaturan kembali tata ruang wilayah pesisir pemukiman, vegetasi, dll. Wilayah pantai dapat diatur menjadi kota ekologi sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai wisata pantai ekoturisme berupa wisata alam atau bentuk lainnya. Peningkatan motivasi dan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memanfaatkan mangrove secara bertanggungjawab. Ijin usaha dan lainnya hendaknya memperhatikan aspek konservasi, khususnya di wilayah pesisir. Peningkatan pengetahuan dan penerapan kearifan lokal tentang konservasi. Peningkatan pendapatan masyarakat pesisir. Program komunikasi konservasi hutan mangrove. Penegakan hukum. Perbaikkan ekosistem wilayah pesisir secara terpadu dan berbasis masyarakat. Artinya dalam memperbaiki ekosistem wilayah pesisir masyarakat sangat penting dilibatkan yang kemudian dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Selain itu juga mengandung pengertian bahwa konsep-konsep lokal kearifan lokal tentang ekosistem dan pelestariannya perlu ditumbuhkembangkan kembali sejauh dapat mendukung program tersebut. demikianlah artikel dari mengenai Hutan Mangrove Pengertian, Ciri, Bentuk Adaptasi, Fungsi, Manfaat, Permasalahan, Akibat Rusaknya, Pemecahan Masalahnya , semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda semua. – Hutan mangrove merupakan ekosistem peralihan antara ekosistem perairan dan ekosistem daratan. Hutan mangrove tumbuh di sepanjang pesisir pantai, muara sungai, bahkan ada yang tumbuh di rawa gambut. Komunitas dan pertumbuhan hutan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor alam, misalnya jenis tanah, salinitas, pasang surut, serta hempasan gelombang. Pasang surut air laut tersebut dapat membentuk zonasi hutan dengan jenis-jenis mangrove yang beraneka ragam. Pada ekosistem mangrove dikenal jenis-jenis tumbuhan yang dinamakan dengan mangrove sejati mayor dan minor dan mangrove ikutan. Mangrove sejati mayor adalah tumbuhan yang tumbuh pada pasang surut dan membentuk tegakan murni. Lalu, mangrove sejati minor adalah bukan komponen penting dari mangrove biasanya di daerah tepi dan jarang membentuk tegakan. Sedangkan, mangrove ikutan adalah tumbuhan yang tidak pernah tumbuh di komunitas mangrove sejati dan biasanya tumbuh bergabung dengan tumbuhan daratan. Berikut ini akan kami kenalkan jenis-jenis mangrove sejati yang biasa tumbuh di Indonesia. Avicennia Avicennia atau di Indonesia dikenal dengan nama api-api biasa tumbuh di zonasi paling depan dekat dengan laut. Avicennia memiliki ciri-ciri yaitu daunnya berbentuk bulat telur terbalik dengan ujung meruncing. Sistem perakaran yang dimiliki yaitu akar nafas tegak yang berbentuk pensil. Memiliki bunga berwarna kuning-jingga yang bergerombol di ujung tandan. Selain itu, Avicennia juga memiliki buah berbentuk bulat dengan permukaan buah terdapat rambut halus. Pemanfaatan daun Avicennia biasanya untuk pakan ternak, selain itu bisa juga untuk mengatasi kulit tubuh yang terbakar. Kemudian untuk kayunya dapat dijadikan sebagai bahan kertas yang berkualitas. Di Indonesia dikenal 5 jenis api api, yaitu A. alba, A. eucalyptifolia, A. lanata, A. marina, dan A. officinalis. Sonneratia Sonneratia dikenal umum dengan nama pedada. Jenis ini menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang. Sama seperti Avicennia, jenis Sonneratia ini juga memiliki sistem perakaran yaitu akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul yang muncul ke permukaan. Daunnya berbentuk bulat telur terbalik dengan ujung membulat. Sonneratia memiliki bunga berbentuk seperti lonceng yang bagian luarnya berwarna hijau dan dalamnya merah. Kemudian buahnya seperti bola dengan ujung bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah Sonneratia dapat dikonsumsi. Sedangkan, batang kayunya dijadikan sebagai bahan pembuatan perahu maupun sebagai bahan bakar. Di Indonesia umum dijumpai 3 jenis, yaitu S. alba, S. caseolaris, dan S. ovata. Rhizophora Jenis Rhizopora biasa tumbuh di areal tanah berlumpur yang digenangi oleh pasang surut sedang. Di Indonesia,mangrove ini memiliki nama lokal bakau minyak. Rhizopora memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter, dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Bentuk daunnya elips dengan ujung meruncing. Bunga Rhizopora ada di ketiak daun dan memiliki kelopak berwarna kuning kecoklatan. Buahnya kasar berbentuk bulat memanjang. Kayu mangrove jenis ini dimanfaatkan untuk bahan bangunan, kayu bakar, dan arang. Sedangkan akarnya dapat dijadikan sebagai jangkar. Di Indonesia sering dijumpai 3 jenis dari Rhizophora di ekosistem mangrove di Indonesia, yaitu R. apiculata, R. mucronata, dan R. stylosa. Bruguiera Mangrove jenis bruguiera ini tumbuh pada areal yang digenangi pasang tinggi. Di Indonesia dikenal dengan nama bogem, butong, butun. Bruguiera memiliki ciri khas yaitu memiliki akar lutut atau papan/banir. Daunnya berbentuk bulat telur terbalik dengan ujung agak tumpul. Ketika masih muda daunnya berwarna merah muda. Bunga Bruguiera menggantung dan bergerombol berukuran besar. Bentuk buah Bruguiera seperti buah delima yaitu berbentuk piramid dan berukuran lebih besar. Di Indonesia dikenal 6 jenis tanaman ini, yaitu B. cylindryca, B. exaristata, B. gymnorrhiza, B. haenessii, B. parviflora, dan B. sexangula. Ceriops Ceriops membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi. Ceriops memiliki akar tunjang kecil berbentuk seperti pensil. Daunnya berwarna hijau mengkilap berbentuk bulat telur terbalik dengan ujung membulat. Lalu, bunga mengelompok di ujung tandan dan terletak di ketiak daun. Kemudian, bentuk buahnya memanjang dengan tabung kelopak yang melengkung. Pemanfaatan kayu Ceriops bisa digunakan untuk bahan bangunan, bahan peralatan rumah tangga, dan bahan bakar. Di Indonesia terdapat 2 jenis yaitu C. decandra dan C. tagal. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove, dimana 43 spesies diantaranya merupakan mangrove sejati. Jenis-jenis vegetasi mangrove ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan ekosistem mangrove yang spesifik. Adanya hutan mangrove ini dapat memberikan banyak manfaat yang penting bagi kehidupan manusia. Selain kita dapat memanfaatkan secara langsung produk dari vegetasi mangrove untuk kayu bakar, bahan bangunan, obat-obatan, hingga bahan pangan, mangrove juga berfungsi sebagai penyerap dan penjerap CO2 sebagai zat emisi. Demikianlah informasi mengenai jenis-jenis mangrove beserta ciri-ciri dan manfaatnya. Semoga dapat menambah pengetahuan kamu ya. ran

yang bukan merupakan ciri ciri tumbuhan penyusun hutan mangrove adalah